Senin, 02 Januari 2012

Senyuman Terindah

             Senyum. Sebuah kata yang simple, mudah dimengerti, memiliki cukup banyak makna, dan yang paling mudah ditebak adalah seseorang tersenyum apabila dia merasa bahagia atau senang. Tapi berbeda dengan Yuka. Seorang gadis berumur 17 tahun ini sering dianggap sombong oleh teman-temannya karena sangat jarang melihat Yuka tersenyum. Mungkin teman-teman sekolahnya hanya melihat cewek Libra ini tersenyum hanya kalau dipuji guru karena nilainya selalu di atas rata-rata, tapi senyum Yuka hanya senyum terpaksa. Tak banyak yang tau kenapa dan apa sebab Yuka tak pernah tersenyum pada orang-orang. Bahkan hampir tak pernah teman- teman 1 sekolahnya melihat Yuka tersenyum lepas, tak ada satu pun yang tau.Walaupun jarang tersenyum pada teman-temannya tapi cewek yang satu ini memiliki prestasi yang tinggi. Nilai rapornya tak ada yang mendapat angka merah, nilainya selalu di atas 90. Karena kepintarannya itu Yuka menjadi murid yang di sukai para guru, bahkan teman-temannya mulai bisa menerima dia apa adanya. Yuka mendapat "Label Gratis" dari teman-temannya. Dan dia di juluki  'Tapres Girl' (gadis tanpa ekspresi).

       Sebenernya cewe yang manis dan imut ini gak "Tapres" sama sekali. Tapi Yuka gak bisa menunjukan ekspresinya karena malu akan kawat giginya. Memang kawat gigi itu sudah di pasang sejak setahun lalu, sejak Yuka pertama kali masuk SMA dan sampai sekarang belum di lepas karena kata dokter giginya belum di tempat yang seharusnya. Jadi dokter meminta agar Yuka tetap memakai kawat gigi itu.

       Beberapa teman di sekolah Yuka beranggapan bahwa ia yang "Tapres"  gak punya temen sama sekali. Yuka punya 1 temen yang baik banget dan deket dengannya sejak SMP. Namanya Anastasia. Sangat berbeda dengan Yuka, Anastasia anaknya PD dan berani. Selain itu Anastasia juga Tomboy. Intinya mereka berdua bagaikan langit dan bumi. Yuka sebagai "Cewek Tulen" sedangkan Anastasia mempunyai kepribadin cowok. Tapi mereka tetap sahabatan. Walaupun Yuka diejek bagaimanapun dan habis-habisan oleh teman-teman yang lain, Anastasia pasti nemenin dan membelanya. Mereka berdua sudah gak bisa di pisahin lagi dan memang sebagai 'Soulmate'.

      Suatu hari di rapat OSIS...
         
         "Nas, temenmu yang pinter itu kok gak pernah senyum sih??!!" tanya Sendy memulai rapat OSIS yang hampir di mulai...
"Hus, ngawur aja !!! Siapa yang bilang Yuka gak bisa senyum ?! Iya bisa lah !! kalo dia senyum, pada meleleh semua nanti. Jangan ngeledek orang dong !!!" jawab Anastasia sinis.
"Ada apa sih ini ribut-ribut, bikin orang pusing aja" tanya Yuka heran.
"Ini nih Sendy ngeledekkin kamu terus."
"Udah jangan di bahas lagi, kita mulai rapatnya".

     Waktu pulang sekolah...
       
          "Yuka, tungguin dong. Masa aku ditinggal? Maaf yang masalah tadi, Yuka !!" Teriak Anastasia Dengan perasaan bersalah. Ya, beginilah jadinya jika orang gak mau tau penjelasan orang lain. ''Yuka, Aku minta maaf Sendy memang orangnya kaya gitu!". Teriak Anastasia lagi.
"Iya aku maafin, tapi jangan di ulangin lagi." Yuka ketika tiba-tiba berhenti.
"Oh ok Makasih banyak Uka, Sendy emang kaya gitu orangnya. Gak berani di depan tapi di belakang berani."
"Iya, aku juga tau itu, udah ah ayo pulang."
"oke".
"Telfon aku nanti malam, ada yang mau aku omongin."
"Oke Uka"

      Malam itu...

            Malam ini Yuka merasa sedih juga kecewa. Bagaimana tidak, tadi siang di sekolah sudah kena cacimaki Sendy. Yah mungkin merasa aneh dengan keberadaan Yuka yang jarang senyum. Yuka terus menerus memikirkan hal itu. Kenapa dia gak bisa tersenyum seperti yang lain. Yuka merasa dirinya tak normal. Serasa seperti orang tak berguna. Tapi dia selama ini salah. Ada teman-teman yang baik dan mau menerima keadaan dia apa adanya.

           Hari minggu pagi Yuka baru bangun dari tidurnya dan disaat itu juga ponselnya berbunyi nyaring. Yuka yang saat itu belum sepenuhnya sadar mancari-cari ponselnya disekitar dirinya. Tanpa sadar dia menjatuhkan ponselnya sendiri. "Pagi-pagi udah sial arghh..." Keluhnya. Bunyi lagu "Dang Ni" dari Cyndi Wang terus berbunyi tanpa hentinya, Yuka semakin heran  tak biasanya ada yang menelfon sepagi ini. "Siapa sih yang telfon ganggu aja." Keluhnya lagi.
"Pagi tukang tidur, maaf kemarin malam aku gak bisa telfon soalnya ada sepupuku yang dateng jadinya aku gak bisa pegang ponsel." Suara Anastasia dari ujung sana.
"Hmm Mmm, aku kira apa bangunin bagi-bagi. Masih ngantuk." Yuka yang berusaha berbicara.
"Eh, jangan tidur lagi. Aku sebentar lagi kesana, sekitar 10 menit lagi. Tunggu aku."
"Iya-iya ini bangun."
"Oke then see you there."
"Oke"
Setelah mematikan telfon Yuka cepat mandi dan sarapan sambil menunggu Anastasia datang kerumannya. Jarak rumah mereka tidak terlalu jauh hanya berjarak 1 KM dari rumah Yuka. Ia merasa hari ini akan berakhir dengan buruk karena di pagi hari dia sudah mendapat kesialan kecil. 15 menit kemudian Anastasia datang dengan membawa amplop berwarna biru muda dengan tulisan perak di atasnya. Anastasia begitu gembira hingga ia tidak menyadari bahwa pintu kamar Yuka bukan pintu yang di tarik ke dalam namun pintu geser.
"Liat deh Uka, kita di undang di Sweet Seventeennya Marco" sambil menyodorkan salah satu amplop biru itu kepadaku.
"Marco? anak basket itu?" tanyaku heran
"iya Uka. Dan kita di haruskan datang. Nih liat acaranya hari Rabu jam 6 sore di hotel milik papanya, dress codenya hitam putih."
"Kalo misalnya aku gak ikut gimana?
"Iya harus ikutlah Marco sendiri yang kasih ini ke aku dan dia bilang kita di harusin dateng."
"Kalo misalnya aku tetep gak mau?"
"Aku suru Marco sendiri yang maksa kamu dateng."
"Oke deal."
"Hei, jangan gitulah, have fun sedikit jangan di rumah terus."
"Iya bawel, terpaksa aku ikut."
"Nah, Gitu dong.Besok lusa kita beli dressnya oke."
"Oke Then"
"Sekarang kamu ikut aku"
"Kemana?"
"Ada pokonya ikut aja. aku tunggu di mobil 5 menit lagi kita harus berangkat."
"Well, Oke"

                  Setelah berada di dalam mobil, Anastasia mengajak Yuka ke toko bunga yang tak jauh dari kompleks rumah Yuka. Seperti biasanya Anastasia yang lebih dulu curhat panjang lebar tentang apapun yang dia alamai semalam, bahkan Yuka sendiri sampai muak mendengarnya dan hanya menjawab Anastasia dengan singkat. Walaupun Yuka seperti itu Anastasia tetap menerima sikapnya, ia paham dengan sikap Yuka yang begitu dingin kepada setiap orang maka dari itu ia terbiasa. Ia mengerti alasan mendalam kenapa Yuka memilih untuk selalu bersikap dingin kepada setiap orang. Hanya Anastasia yang tahu alasan itu.
                  Sekitar 10 menit perjalanan akhirnya mereka sampai di toko bunga langganan Anastasia. Mereka berdua masuk ke dalam toko dan melihat-lihat sekeliling, banyak buket bunga yang sudah di rangkai dengan indahnya oleh para karyawan toko. Anastasia berbicara dengan beberapa pegawai di sana, Yuka dari jauh hanya memperhatikan buket bunga mawar putih yang terpajang diatas meja etalase. Yuka memang menyukai mawar putih karena baginya mawar putih adalah sepenggal dirinya yang begitu rapuh dan tidak suka di nodai. Tak lama kemudian Anastasia kembali dengan membawa buket bunga tulip dan dandelion. Buket yang begitu indah, tetapi Yuka tidak menanggapi dan langsung berjalan keluar menuju mobil Anastasia.

                   Didalam mobil Anastasia bercerita tentang untuk siapa buket bunga ini ia beli. Ia membellinya untuk seorang yang begitu mengispirasinya selama ini hingga dia dapat bertahan dengan bullyan yang begitu banyak di lontarkan kepadanya. Di tengah-tengah pembicaraan, tiba- tiba Anastasia terdiam sejenak. Hening. Entah apa yang dia pikirkan yang jelas itu membuatnya berpikir ke masa lalunya yang kelam.

     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Blinking Hello Kitty Angel