Aku memandang keluar jendela
cahaya mentari pagi hari bersinar
nyanyian kicauan burung yang indah
tarian kupu-kupu nan indah
angin membelaiku perlahan...
mambawa perasaan tenang
kulihat 1 bunga sakura yang gugur dari pohonnya
kemudian banyak sakura gugur
seperti hujan sakura yang indah
aku menutup mata merasakan bunga-bunga itu
berjatuhan di tubuhku.. membelai lembut
ku memandang ke langit
begitu indah...
begitu tenang...
andai dirimu di sana dapat melihat ini semua
aku selalu menantimu...
"Oh, gawat aku terlambat dia pasti marah padaku." Pekikku panik melihat jam dinding sudah pukul 8 tepat. Dan keadaanku masih acak-acakan tak jelas, tempat tidurku berantakan, diriku sendiri belum rapih. Kacau tak beraturan, aku bergegas mandi mengganti pakaianku dan berangkat ke tempatku berkerja dengan membiarkan keadaan kamarku yang seperti kapal pecah itu. Yah seperti
Flowers Story
Cerita Dari Hati Untuk Pembaca Yang Setia
Rabu, 26 Juni 2013
Selasa, 11 September 2012
Hadiah Terindah
Malam natal...
Adalah saat yang sangat di nanti..
Malam untuk bertukar hadiah...
Malam untuk bertukar cerita...
Malam yang membawa berkah tersendiri untuk semua...
Hadiah yang aku nanti adalah hadiah dari orang yang aku sayangi...
Boneka beruang FOREVER FRIEND yang sangat aku inginkan...
Juga hatimu yang tulus...
Hanya itu tak ada yang lain
Inilah kejadian natal tahun lalu..
Yang membuatku sangat kehilangan...
Pulang sekolah aku berlari cepat ke kamar. Tak tau kenapa yang membuat aku melakukannya yang jelas ingin cepat-cepat menangis. 45 hari sebelum natal, aku sedang jalan-jalan di taman
Pulang sekolah aku berlari cepat ke kamar. Tak tau kenapa yang membuat aku melakukannya yang jelas ingin cepat-cepat menangis. 45 hari sebelum natal, aku sedang jalan-jalan di taman
Minggu, 12 Februari 2012
Valentine Kita
"Buat aku, Bik?" Bik Inah mengangguk.
"Dari siapa, Nih?"
"Bibik juga gak tau, Non. Dari cowoknya ya, Non?"
Aku mencibir "Mau tau aja, Bik."
Segera aku menuju kamarku di lantai dua. Di rung TV, teman-teman kostku asyik main monopoli. Setelah 'Say Hello', aku masuk ke kamar dan menguncinya.
Kamis, 05 Januari 2012
Ingatan Yang Hilang
Berilah aku waktu
Satu jam saja-satu jam saja
Agar bisa kukatakan
Betapa aku mencintainya
Sebelum ingatan yang hilang
Sebelum dia merengut nyawa
Hanya untuk melindungiku
Pagi hari yang cerah. Suara kicau riang burung membangunkanku. Hari ini adalah hari pertama aku masuk sekolah sejak kecelakaan itu. Kecelakaan yang membuat aku hilang ingatan. Aku segera bangun dari tempat tidur dan cepat mandi. Sarapan, memakai seragam, memeriksa buku-buku yang akan di bawa utnuk sekolah sudah selesai, aku langsung menuruni tangga dan berangkat ke sekolah. Pagi ini aku belum di perbolehkan untuk ke sekolah sendirian, karena orang tuaku masih khawatir jika aku kenapa-kenapa. Maka dari itu papaku mengantarku ke sekolah naik mobil walaupun jarak rumah dan sekolahku tidak terlalu jauh. Di tengah perjalanan mataku terarah pada sebuah jalan kecil. Aku merasa pernah mengalami sesuatu di situ, agar tak penasaran aku bertanya pada papa "Pa, apakah aku punya teman di situ atau kerabat, atau setiap pulang sekolah aku selalu lewat situ?" "Tidak, kamu engga pernah punya teman atau kerabat yang tinggal di situ dan kamu engga pernah lewat situ saat pulang sekolah" jawab papa. Aneh, tapi aku merasa pernah melewati jalan itu. Iya sudah, lupakan saja tak perlu mengingat hal yang tak mungkinku ingat. Tak lama kemudian aku sampai di sekolah.
Setelah sampai di pintu gerbang sekolah, aku melihat sekeliling dengan ragu. Dalam hati terus bertanya-tanya apakah ada yang bisa menemaniku?. Dengan ragu aku Masuk ke kelasku dan langsung duduk diam di bangkuku. Aku hanya bisa diam tanpa kata apa-apa dan berharap aku bisa mengenali teman-temanku. "Rani... sorry gue enggak bisa jenguk lo. Lo gakpapa kan?, gue denger ingatan lo hilang. Astaga ran... jadi lo enggak inget gue dong" kata salah satu cewe tinggi yang duduk di sebelahku. "sorry bukan maksud aku...", "gue tau kok ran, nama gue Liviena, lo bisa panggil gue Livie". Setelah mengenalinya, aku pun kembali diam dan melamun. Pikiranku terus bertanya-tanya. Kenapa aku pernah melewati gang kecil itu?, Ehmm... mungkin hanya kebetulan, atau mungkin pikiranku masih kacau karna kecelakaan itu.
Bel tanda masuk kelas pun berbunyi. Lamunanku buyar setelah melihat cowo blasteran indo korea masuk ke kelas. Cowo itu melihatku sambil tersenyum. Hatiku berdebar kencang saat melihatnya tersenyum. Aku tak mengerti diriku sendiri kenapa bisa sampai seperti ini. Semua akan baik-baik saja, tak ada yang perlu di takutkan, batinku.
Aku duduk di bangku nomor 2, disitu aku mulai bingung lagi saat seorang cewe tiba-tiba duduk di sebelahku. "Eh... kabarmu gimana? gak kenapa-kenapa kan? Sory pas di rs aku gak bisa jenguk kamu." " Hmm iya nggapapa kok... lagi pula.." " udahlah ran.. jangan khawatir, aku tau ingatanmu hilang, namaku glaydis panggil aja glay." "oh iya glay, makasih banyak." "oke". Aku sangat senang jika ada temanku yang masih ada simpati kepadaku. Sudah lama sekali tak bergaul dengan teman-teman di sekolah. Hal yang sangat aku rindukan.
Pelajaran pertama adalah Bahasa Indonesia. Hal yang aku ingat dengan pelajaran ini adalah ceramah yang membosankan dari "Guru Killer" yang gak jelas cara bicaranya. Ternuata dugaanku benar, Pak Rusban guru bahasa Indonesiaku yang aku mulai ingat. Sepanjang pelajaran memang semua murid hanya duduk diam tanpa ada sepatah kata pun keluar dari mulut mereka jika tak di suruh. Aneh.. anak cowo yang tersenyum padaku tadi merasa biasa saja, tak measakan tegang sedikitk pun. Aku mulai heran dengan anak itu, hanya dia seorang di kelas yang berani menentang kata-kata Pak Rusban. "Siapa yang berani maju kedepan membacakan puisinya?" Kata Pak Rusban dengan galaknya. Kelas pun sunyi senyap, tak ada murid yang berani, aku sendiri pun begitu tak berani berkata-kata. Aku sudah merasa anak cowo itu yang satu-satunya berani membacakannya puisi di depan kelas dan... " Saya berani pak" kata cowo itu. Benarkan dugaanku pasti dia yang berani membacakan puisi. Seisi kelas pun berhafas lega karna cowo itu, yah.. saatnya mendengarkan puisinya.
Puisi yang sederhana tapi menyentuh hati.. ya, begitulah puisi yang dibacakannya namun ada bait dalam puisi itu yang membuatku sangat malu..
Aku dapat menggapai bintang untukmu
Aku dapat memetik bunga surga untukmu
Hitunglah pasir dilaut
Hitunglah bintang dilangit malam
Hitunglah banyaknya air dibumi ini
Itulah seberapa besar cintaku padamu
Apakah kau mau menerima cintaku? Rani?
Aku terkejut saat kata-kata itu terlotar dari mulutnya. Pipiku merah seperti tomat matang, satu kelaspun menyorakiku. Malu bukan main yang aku rasakan. "Ciee... rani di tembak vincent nih... wkwkwk" "ah engga biasa aja cuma bait puisi biasa kali glay." "shy-shy cat nih..haha, just kidding kok ran" " Udah ah nanti Pak Rusban ngamuk ke kamu gak tau lho ya?" "Iya-iya"
Vincent... Hmmm nama yang tak asing di telingaku. Ya mungkin sejak ingatanku hilang aku tak bisa mengingat sosok dari nama vincent itu. Bel pulang sekolah berbunyi, Livie dan Glay menemaniku pulang kerumah, Mataku selalu tertuju dengan gang sempit yang tak jauh dari rumahku. Aku merasa aneh dengan gang itu. Selalu ada rasa takut jika melihat gang itu. Namun aku sudah mempunyai tekat untuk tak merasakan apapun saat melewati gang itu.
"Eh ran, ngelamun aja nanti nabrak engga tau lho." Suara Glay membuyarkan lamunanku. Biasa Glay memang orangnya selalu suka membuyarkan lamunan orang tapi dia sendiri tidak suka jika lamunannya dibuyarkan. Kebiasaan buruk yang tidak disukai dirinya sendiri. "Eeeh, ngga ngelamun. Ngga bakal nabrak kok tenang aja." "Iya deh percaya, yuk cepet keburu hujan nih aku juga belum sampe rumah." "Iya, ayo cepet."
Perasaanku semakin tak enak saat menjauh dari gang sempit tu, rasanya seperti ada yang mengikuti dari belakang. Tiap kali ku menatap belakang sellau ada gerakan cepat seorang pria berbayang hitam. Dalam benakku aku ketakutan, namun aku berusaha menutupi ketakutan itu.
Setelah sampai di pintu gerbang sekolah, aku melihat sekeliling dengan ragu. Dalam hati terus bertanya-tanya apakah ada yang bisa menemaniku?. Dengan ragu aku Masuk ke kelasku dan langsung duduk diam di bangkuku. Aku hanya bisa diam tanpa kata apa-apa dan berharap aku bisa mengenali teman-temanku. "Rani... sorry gue enggak bisa jenguk lo. Lo gakpapa kan?, gue denger ingatan lo hilang. Astaga ran... jadi lo enggak inget gue dong" kata salah satu cewe tinggi yang duduk di sebelahku. "sorry bukan maksud aku...", "gue tau kok ran, nama gue Liviena, lo bisa panggil gue Livie". Setelah mengenalinya, aku pun kembali diam dan melamun. Pikiranku terus bertanya-tanya. Kenapa aku pernah melewati gang kecil itu?, Ehmm... mungkin hanya kebetulan, atau mungkin pikiranku masih kacau karna kecelakaan itu.
Bel tanda masuk kelas pun berbunyi. Lamunanku buyar setelah melihat cowo blasteran indo korea masuk ke kelas. Cowo itu melihatku sambil tersenyum. Hatiku berdebar kencang saat melihatnya tersenyum. Aku tak mengerti diriku sendiri kenapa bisa sampai seperti ini. Semua akan baik-baik saja, tak ada yang perlu di takutkan, batinku.
Aku duduk di bangku nomor 2, disitu aku mulai bingung lagi saat seorang cewe tiba-tiba duduk di sebelahku. "Eh... kabarmu gimana? gak kenapa-kenapa kan? Sory pas di rs aku gak bisa jenguk kamu." " Hmm iya nggapapa kok... lagi pula.." " udahlah ran.. jangan khawatir, aku tau ingatanmu hilang, namaku glaydis panggil aja glay." "oh iya glay, makasih banyak." "oke". Aku sangat senang jika ada temanku yang masih ada simpati kepadaku. Sudah lama sekali tak bergaul dengan teman-teman di sekolah. Hal yang sangat aku rindukan.
Pelajaran pertama adalah Bahasa Indonesia. Hal yang aku ingat dengan pelajaran ini adalah ceramah yang membosankan dari "Guru Killer" yang gak jelas cara bicaranya. Ternuata dugaanku benar, Pak Rusban guru bahasa Indonesiaku yang aku mulai ingat. Sepanjang pelajaran memang semua murid hanya duduk diam tanpa ada sepatah kata pun keluar dari mulut mereka jika tak di suruh. Aneh.. anak cowo yang tersenyum padaku tadi merasa biasa saja, tak measakan tegang sedikitk pun. Aku mulai heran dengan anak itu, hanya dia seorang di kelas yang berani menentang kata-kata Pak Rusban. "Siapa yang berani maju kedepan membacakan puisinya?" Kata Pak Rusban dengan galaknya. Kelas pun sunyi senyap, tak ada murid yang berani, aku sendiri pun begitu tak berani berkata-kata. Aku sudah merasa anak cowo itu yang satu-satunya berani membacakannya puisi di depan kelas dan... " Saya berani pak" kata cowo itu. Benarkan dugaanku pasti dia yang berani membacakan puisi. Seisi kelas pun berhafas lega karna cowo itu, yah.. saatnya mendengarkan puisinya.
Puisi yang sederhana tapi menyentuh hati.. ya, begitulah puisi yang dibacakannya namun ada bait dalam puisi itu yang membuatku sangat malu..
Aku dapat menggapai bintang untukmu
Aku dapat memetik bunga surga untukmu
Hitunglah pasir dilaut
Hitunglah bintang dilangit malam
Hitunglah banyaknya air dibumi ini
Itulah seberapa besar cintaku padamu
Apakah kau mau menerima cintaku? Rani?
Aku terkejut saat kata-kata itu terlotar dari mulutnya. Pipiku merah seperti tomat matang, satu kelaspun menyorakiku. Malu bukan main yang aku rasakan. "Ciee... rani di tembak vincent nih... wkwkwk" "ah engga biasa aja cuma bait puisi biasa kali glay." "shy-shy cat nih..haha, just kidding kok ran" " Udah ah nanti Pak Rusban ngamuk ke kamu gak tau lho ya?" "Iya-iya"
Vincent... Hmmm nama yang tak asing di telingaku. Ya mungkin sejak ingatanku hilang aku tak bisa mengingat sosok dari nama vincent itu. Bel pulang sekolah berbunyi, Livie dan Glay menemaniku pulang kerumah, Mataku selalu tertuju dengan gang sempit yang tak jauh dari rumahku. Aku merasa aneh dengan gang itu. Selalu ada rasa takut jika melihat gang itu. Namun aku sudah mempunyai tekat untuk tak merasakan apapun saat melewati gang itu.
"Eh ran, ngelamun aja nanti nabrak engga tau lho." Suara Glay membuyarkan lamunanku. Biasa Glay memang orangnya selalu suka membuyarkan lamunan orang tapi dia sendiri tidak suka jika lamunannya dibuyarkan. Kebiasaan buruk yang tidak disukai dirinya sendiri. "Eeeh, ngga ngelamun. Ngga bakal nabrak kok tenang aja." "Iya deh percaya, yuk cepet keburu hujan nih aku juga belum sampe rumah." "Iya, ayo cepet."
Perasaanku semakin tak enak saat menjauh dari gang sempit tu, rasanya seperti ada yang mengikuti dari belakang. Tiap kali ku menatap belakang sellau ada gerakan cepat seorang pria berbayang hitam. Dalam benakku aku ketakutan, namun aku berusaha menutupi ketakutan itu.
Senin, 02 Januari 2012
Senyuman Terindah
Senyum. Sebuah kata yang simple, mudah dimengerti, memiliki cukup banyak makna, dan yang paling mudah ditebak adalah seseorang tersenyum apabila dia merasa bahagia atau senang. Tapi berbeda dengan Yuka. Seorang gadis berumur 17 tahun ini sering dianggap sombong oleh teman-temannya karena sangat jarang melihat Yuka tersenyum. Mungkin teman-teman sekolahnya hanya melihat cewek Libra ini tersenyum hanya kalau dipuji guru karena nilainya selalu di atas rata-rata, tapi senyum Yuka hanya senyum terpaksa. Tak banyak yang tau kenapa dan apa sebab Yuka tak pernah tersenyum pada orang-orang. Bahkan hampir tak pernah teman- teman 1 sekolahnya melihat Yuka tersenyum lepas, tak ada satu pun yang tau.Walaupun jarang tersenyum pada teman-temannya tapi cewek yang satu ini memiliki prestasi yang tinggi. Nilai rapornya tak ada yang mendapat angka merah, nilainya selalu di atas 90. Karena kepintarannya itu Yuka menjadi murid yang di sukai para guru, bahkan teman-temannya mulai bisa menerima dia apa adanya. Yuka mendapat "Label Gratis" dari teman-temannya. Dan dia di juluki 'Tapres Girl' (gadis tanpa ekspresi).
Sebenernya cewe yang manis dan imut ini gak "Tapres" sama sekali. Tapi Yuka gak bisa menunjukan ekspresinya karena malu akan kawat giginya. Memang kawat gigi itu sudah di pasang sejak setahun lalu, sejak Yuka pertama kali masuk SMA dan sampai sekarang belum di lepas karena kata dokter giginya belum di tempat yang seharusnya. Jadi dokter meminta agar Yuka tetap memakai kawat gigi itu.
Beberapa teman di sekolah Yuka beranggapan bahwa ia yang "Tapres" gak punya temen sama sekali. Yuka punya 1 temen yang baik banget dan deket dengannya sejak SMP. Namanya Anastasia. Sangat berbeda dengan Yuka, Anastasia anaknya PD dan berani. Selain itu Anastasia juga Tomboy. Intinya mereka berdua bagaikan langit dan bumi. Yuka sebagai "Cewek Tulen" sedangkan Anastasia mempunyai kepribadin cowok. Tapi mereka tetap sahabatan. Walaupun Yuka diejek bagaimanapun dan habis-habisan oleh teman-teman yang lain, Anastasia pasti nemenin dan membelanya. Mereka berdua sudah gak bisa di pisahin lagi dan memang sebagai 'Soulmate'.
Suatu hari di rapat OSIS...
"Nas, temenmu yang pinter itu kok gak pernah senyum sih??!!" tanya Sendy memulai rapat OSIS yang hampir di mulai...
"Hus, ngawur aja !!! Siapa yang bilang Yuka gak bisa senyum ?! Iya bisa lah !! kalo dia senyum, pada meleleh semua nanti. Jangan ngeledek orang dong !!!" jawab Anastasia sinis.
"Ada apa sih ini ribut-ribut, bikin orang pusing aja" tanya Yuka heran.
"Ini nih Sendy ngeledekkin kamu terus."
"Udah jangan di bahas lagi, kita mulai rapatnya".
Waktu pulang sekolah...
"Yuka, tungguin dong. Masa aku ditinggal? Maaf yang masalah tadi, Yuka !!" Teriak Anastasia Dengan perasaan bersalah. Ya, beginilah jadinya jika orang gak mau tau penjelasan orang lain. ''Yuka, Aku minta maaf Sendy memang orangnya kaya gitu!". Teriak Anastasia lagi.
"Iya aku maafin, tapi jangan di ulangin lagi." Yuka ketika tiba-tiba berhenti.
"Oh ok Makasih banyak Uka, Sendy emang kaya gitu orangnya. Gak berani di depan tapi di belakang berani."
"Iya, aku juga tau itu, udah ah ayo pulang."
"oke".
"Telfon aku nanti malam, ada yang mau aku omongin."
"Oke Uka"
Malam itu...
Malam ini Yuka merasa sedih juga kecewa. Bagaimana tidak, tadi siang di sekolah sudah kena cacimaki Sendy. Yah mungkin merasa aneh dengan keberadaan Yuka yang jarang senyum. Yuka terus menerus memikirkan hal itu. Kenapa dia gak bisa tersenyum seperti yang lain. Yuka merasa dirinya tak normal. Serasa seperti orang tak berguna. Tapi dia selama ini salah. Ada teman-teman yang baik dan mau menerima keadaan dia apa adanya.
Hari minggu pagi Yuka baru bangun dari tidurnya dan disaat itu juga ponselnya berbunyi nyaring. Yuka yang saat itu belum sepenuhnya sadar mancari-cari ponselnya disekitar dirinya. Tanpa sadar dia menjatuhkan ponselnya sendiri. "Pagi-pagi udah sial arghh..." Keluhnya. Bunyi lagu "Dang Ni" dari Cyndi Wang terus berbunyi tanpa hentinya, Yuka semakin heran tak biasanya ada yang menelfon sepagi ini. "Siapa sih yang telfon ganggu aja." Keluhnya lagi.
"Pagi tukang tidur, maaf kemarin malam aku gak bisa telfon soalnya ada sepupuku yang dateng jadinya aku gak bisa pegang ponsel." Suara Anastasia dari ujung sana.
"Hmm Mmm, aku kira apa bangunin bagi-bagi. Masih ngantuk." Yuka yang berusaha berbicara.
"Eh, jangan tidur lagi. Aku sebentar lagi kesana, sekitar 10 menit lagi. Tunggu aku."
"Iya-iya ini bangun."
"Oke then see you there."
"Oke"
Setelah mematikan telfon Yuka cepat mandi dan sarapan sambil menunggu Anastasia datang kerumannya. Jarak rumah mereka tidak terlalu jauh hanya berjarak 1 KM dari rumah Yuka. Ia merasa hari ini akan berakhir dengan buruk karena di pagi hari dia sudah mendapat kesialan kecil. 15 menit kemudian Anastasia datang dengan membawa amplop berwarna biru muda dengan tulisan perak di atasnya. Anastasia begitu gembira hingga ia tidak menyadari bahwa pintu kamar Yuka bukan pintu yang di tarik ke dalam namun pintu geser.
"Liat deh Uka, kita di undang di Sweet Seventeennya Marco" sambil menyodorkan salah satu amplop biru itu kepadaku.
"Marco? anak basket itu?" tanyaku heran
"iya Uka. Dan kita di haruskan datang. Nih liat acaranya hari Rabu jam 6 sore di hotel milik papanya, dress codenya hitam putih."
"Kalo misalnya aku gak ikut gimana?
"Iya harus ikutlah Marco sendiri yang kasih ini ke aku dan dia bilang kita di harusin dateng."
"Kalo misalnya aku tetep gak mau?"
"Aku suru Marco sendiri yang maksa kamu dateng."
"Oke deal."
"Hei, jangan gitulah, have fun sedikit jangan di rumah terus."
"Iya bawel, terpaksa aku ikut."
"Nah, Gitu dong.Besok lusa kita beli dressnya oke."
"Oke Then"
"Sekarang kamu ikut aku"
"Kemana?"
"Ada pokonya ikut aja. aku tunggu di mobil 5 menit lagi kita harus berangkat."
"Well, Oke"
Setelah berada di dalam mobil, Anastasia mengajak Yuka ke toko bunga yang tak jauh dari kompleks rumah Yuka. Seperti biasanya Anastasia yang lebih dulu curhat panjang lebar tentang apapun yang dia alamai semalam, bahkan Yuka sendiri sampai muak mendengarnya dan hanya menjawab Anastasia dengan singkat. Walaupun Yuka seperti itu Anastasia tetap menerima sikapnya, ia paham dengan sikap Yuka yang begitu dingin kepada setiap orang maka dari itu ia terbiasa. Ia mengerti alasan mendalam kenapa Yuka memilih untuk selalu bersikap dingin kepada setiap orang. Hanya Anastasia yang tahu alasan itu.
Sekitar 10 menit perjalanan akhirnya mereka sampai di toko bunga langganan Anastasia. Mereka berdua masuk ke dalam toko dan melihat-lihat sekeliling, banyak buket bunga yang sudah di rangkai dengan indahnya oleh para karyawan toko. Anastasia berbicara dengan beberapa pegawai di sana, Yuka dari jauh hanya memperhatikan buket bunga mawar putih yang terpajang diatas meja etalase. Yuka memang menyukai mawar putih karena baginya mawar putih adalah sepenggal dirinya yang begitu rapuh dan tidak suka di nodai. Tak lama kemudian Anastasia kembali dengan membawa buket bunga tulip dan dandelion. Buket yang begitu indah, tetapi Yuka tidak menanggapi dan langsung berjalan keluar menuju mobil Anastasia.
Didalam mobil Anastasia bercerita tentang untuk siapa buket bunga ini ia beli. Ia membellinya untuk seorang yang begitu mengispirasinya selama ini hingga dia dapat bertahan dengan bullyan yang begitu banyak di lontarkan kepadanya. Di tengah-tengah pembicaraan, tiba- tiba Anastasia terdiam sejenak. Hening. Entah apa yang dia pikirkan yang jelas itu membuatnya berpikir ke masa lalunya yang kelam.
Sebenernya cewe yang manis dan imut ini gak "Tapres" sama sekali. Tapi Yuka gak bisa menunjukan ekspresinya karena malu akan kawat giginya. Memang kawat gigi itu sudah di pasang sejak setahun lalu, sejak Yuka pertama kali masuk SMA dan sampai sekarang belum di lepas karena kata dokter giginya belum di tempat yang seharusnya. Jadi dokter meminta agar Yuka tetap memakai kawat gigi itu.
Beberapa teman di sekolah Yuka beranggapan bahwa ia yang "Tapres" gak punya temen sama sekali. Yuka punya 1 temen yang baik banget dan deket dengannya sejak SMP. Namanya Anastasia. Sangat berbeda dengan Yuka, Anastasia anaknya PD dan berani. Selain itu Anastasia juga Tomboy. Intinya mereka berdua bagaikan langit dan bumi. Yuka sebagai "Cewek Tulen" sedangkan Anastasia mempunyai kepribadin cowok. Tapi mereka tetap sahabatan. Walaupun Yuka diejek bagaimanapun dan habis-habisan oleh teman-teman yang lain, Anastasia pasti nemenin dan membelanya. Mereka berdua sudah gak bisa di pisahin lagi dan memang sebagai 'Soulmate'.
Suatu hari di rapat OSIS...
"Nas, temenmu yang pinter itu kok gak pernah senyum sih??!!" tanya Sendy memulai rapat OSIS yang hampir di mulai...
"Hus, ngawur aja !!! Siapa yang bilang Yuka gak bisa senyum ?! Iya bisa lah !! kalo dia senyum, pada meleleh semua nanti. Jangan ngeledek orang dong !!!" jawab Anastasia sinis.
"Ada apa sih ini ribut-ribut, bikin orang pusing aja" tanya Yuka heran.
"Ini nih Sendy ngeledekkin kamu terus."
"Udah jangan di bahas lagi, kita mulai rapatnya".
Waktu pulang sekolah...
"Yuka, tungguin dong. Masa aku ditinggal? Maaf yang masalah tadi, Yuka !!" Teriak Anastasia Dengan perasaan bersalah. Ya, beginilah jadinya jika orang gak mau tau penjelasan orang lain. ''Yuka, Aku minta maaf Sendy memang orangnya kaya gitu!". Teriak Anastasia lagi.
"Iya aku maafin, tapi jangan di ulangin lagi." Yuka ketika tiba-tiba berhenti.
"Oh ok Makasih banyak Uka, Sendy emang kaya gitu orangnya. Gak berani di depan tapi di belakang berani."
"Iya, aku juga tau itu, udah ah ayo pulang."
"oke".
"Telfon aku nanti malam, ada yang mau aku omongin."
"Oke Uka"
Malam itu...
Malam ini Yuka merasa sedih juga kecewa. Bagaimana tidak, tadi siang di sekolah sudah kena cacimaki Sendy. Yah mungkin merasa aneh dengan keberadaan Yuka yang jarang senyum. Yuka terus menerus memikirkan hal itu. Kenapa dia gak bisa tersenyum seperti yang lain. Yuka merasa dirinya tak normal. Serasa seperti orang tak berguna. Tapi dia selama ini salah. Ada teman-teman yang baik dan mau menerima keadaan dia apa adanya.
Hari minggu pagi Yuka baru bangun dari tidurnya dan disaat itu juga ponselnya berbunyi nyaring. Yuka yang saat itu belum sepenuhnya sadar mancari-cari ponselnya disekitar dirinya. Tanpa sadar dia menjatuhkan ponselnya sendiri. "Pagi-pagi udah sial arghh..." Keluhnya. Bunyi lagu "Dang Ni" dari Cyndi Wang terus berbunyi tanpa hentinya, Yuka semakin heran tak biasanya ada yang menelfon sepagi ini. "Siapa sih yang telfon ganggu aja." Keluhnya lagi.
"Pagi tukang tidur, maaf kemarin malam aku gak bisa telfon soalnya ada sepupuku yang dateng jadinya aku gak bisa pegang ponsel." Suara Anastasia dari ujung sana.
"Hmm Mmm, aku kira apa bangunin bagi-bagi. Masih ngantuk." Yuka yang berusaha berbicara.
"Eh, jangan tidur lagi. Aku sebentar lagi kesana, sekitar 10 menit lagi. Tunggu aku."
"Iya-iya ini bangun."
"Oke then see you there."
"Oke"
Setelah mematikan telfon Yuka cepat mandi dan sarapan sambil menunggu Anastasia datang kerumannya. Jarak rumah mereka tidak terlalu jauh hanya berjarak 1 KM dari rumah Yuka. Ia merasa hari ini akan berakhir dengan buruk karena di pagi hari dia sudah mendapat kesialan kecil. 15 menit kemudian Anastasia datang dengan membawa amplop berwarna biru muda dengan tulisan perak di atasnya. Anastasia begitu gembira hingga ia tidak menyadari bahwa pintu kamar Yuka bukan pintu yang di tarik ke dalam namun pintu geser.
"Liat deh Uka, kita di undang di Sweet Seventeennya Marco" sambil menyodorkan salah satu amplop biru itu kepadaku.
"Marco? anak basket itu?" tanyaku heran
"iya Uka. Dan kita di haruskan datang. Nih liat acaranya hari Rabu jam 6 sore di hotel milik papanya, dress codenya hitam putih."
"Kalo misalnya aku gak ikut gimana?
"Iya harus ikutlah Marco sendiri yang kasih ini ke aku dan dia bilang kita di harusin dateng."
"Kalo misalnya aku tetep gak mau?"
"Aku suru Marco sendiri yang maksa kamu dateng."
"Oke deal."
"Hei, jangan gitulah, have fun sedikit jangan di rumah terus."
"Iya bawel, terpaksa aku ikut."
"Nah, Gitu dong.Besok lusa kita beli dressnya oke."
"Oke Then"
"Sekarang kamu ikut aku"
"Kemana?"
"Ada pokonya ikut aja. aku tunggu di mobil 5 menit lagi kita harus berangkat."
"Well, Oke"
Setelah berada di dalam mobil, Anastasia mengajak Yuka ke toko bunga yang tak jauh dari kompleks rumah Yuka. Seperti biasanya Anastasia yang lebih dulu curhat panjang lebar tentang apapun yang dia alamai semalam, bahkan Yuka sendiri sampai muak mendengarnya dan hanya menjawab Anastasia dengan singkat. Walaupun Yuka seperti itu Anastasia tetap menerima sikapnya, ia paham dengan sikap Yuka yang begitu dingin kepada setiap orang maka dari itu ia terbiasa. Ia mengerti alasan mendalam kenapa Yuka memilih untuk selalu bersikap dingin kepada setiap orang. Hanya Anastasia yang tahu alasan itu.
Sekitar 10 menit perjalanan akhirnya mereka sampai di toko bunga langganan Anastasia. Mereka berdua masuk ke dalam toko dan melihat-lihat sekeliling, banyak buket bunga yang sudah di rangkai dengan indahnya oleh para karyawan toko. Anastasia berbicara dengan beberapa pegawai di sana, Yuka dari jauh hanya memperhatikan buket bunga mawar putih yang terpajang diatas meja etalase. Yuka memang menyukai mawar putih karena baginya mawar putih adalah sepenggal dirinya yang begitu rapuh dan tidak suka di nodai. Tak lama kemudian Anastasia kembali dengan membawa buket bunga tulip dan dandelion. Buket yang begitu indah, tetapi Yuka tidak menanggapi dan langsung berjalan keluar menuju mobil Anastasia.
Didalam mobil Anastasia bercerita tentang untuk siapa buket bunga ini ia beli. Ia membellinya untuk seorang yang begitu mengispirasinya selama ini hingga dia dapat bertahan dengan bullyan yang begitu banyak di lontarkan kepadanya. Di tengah-tengah pembicaraan, tiba- tiba Anastasia terdiam sejenak. Hening. Entah apa yang dia pikirkan yang jelas itu membuatnya berpikir ke masa lalunya yang kelam.
Kamis, 01 Desember 2011
Mawar Putih
Di sebuah taman bunga
Aku duduk di tengah
Taman itu tanpa ada
Seorang yang menemaniku
Hanya kupu-kupu
Dan peri-peri yang
Berterbangan mengeilingiku
Kemudian dirimu datang
Membawa mawar putih
Tak kusangka itu hanya mimpi
Dan aku ingin mimpi itu menjadi kenyataan
Aku duduk di tengah
Taman itu tanpa ada
Seorang yang menemaniku
Hanya kupu-kupu
Dan peri-peri yang
Berterbangan mengeilingiku
Kemudian dirimu datang
Membawa mawar putih
Tak kusangka itu hanya mimpi
Dan aku ingin mimpi itu menjadi kenyataan
Kehidupan
Tetapi kenapa ia berubah?
Ia meninggalkanku dan tak pernah merasa rindu.
Ia memang sudah berubah
Bahkan aku kehilangan seseorang
Yang selama ini membesarkanku
Yang selama ini membesarkanku
Berikan aku jawaban agar
Aku mengerti apa maksud
Dari hidupku selama ini.
Dari hidupku selama ini.
Tetapi tak lama aku mengerti
Ini adalah cobaan hidup
Dan aku menjadi lebih sabar dan tabah
Hidup memang penuh cobaan
Hidup memang penuh cobaan
Terima kasih Tuhan akhirnya
Aku mengerti dan aku bisa menerimanya.
Hari-hari berlalu setelah aku jadian dengannya. Dia selalu menemaniku dan selalu memperhatikanku. Dia bernama dominic. Setelah 3 bulan aku jalan dengannya, dia menjadi aneh dan akhir-akhir ini aku
Langganan:
Komentar (Atom)





