Berilah aku waktu
Satu jam saja-satu jam saja
Agar bisa kukatakan
Betapa aku mencintainya
Sebelum ingatan yang hilang
Sebelum dia merengut nyawa
Hanya untuk melindungiku
Pagi hari yang cerah. Suara kicau riang burung membangunkanku. Hari ini adalah hari pertama aku masuk sekolah sejak kecelakaan itu. Kecelakaan yang membuat aku hilang ingatan. Aku segera bangun dari tempat tidur dan cepat mandi. Sarapan, memakai seragam, memeriksa buku-buku yang akan di bawa utnuk sekolah sudah selesai, aku langsung menuruni tangga dan berangkat ke sekolah. Pagi ini aku belum di perbolehkan untuk ke sekolah sendirian, karena orang tuaku masih khawatir jika aku kenapa-kenapa. Maka dari itu papaku mengantarku ke sekolah naik mobil walaupun jarak rumah dan sekolahku tidak terlalu jauh. Di tengah perjalanan mataku terarah pada sebuah jalan kecil. Aku merasa pernah mengalami sesuatu di situ, agar tak penasaran aku bertanya pada papa "Pa, apakah aku punya teman di situ atau kerabat, atau setiap pulang sekolah aku selalu lewat situ?" "Tidak, kamu engga pernah punya teman atau kerabat yang tinggal di situ dan kamu engga pernah lewat situ saat pulang sekolah" jawab papa. Aneh, tapi aku merasa pernah melewati jalan itu. Iya sudah, lupakan saja tak perlu mengingat hal yang tak mungkinku ingat. Tak lama kemudian aku sampai di sekolah.
Setelah sampai di pintu gerbang sekolah, aku melihat sekeliling dengan ragu. Dalam hati terus bertanya-tanya apakah ada yang bisa menemaniku?. Dengan ragu aku Masuk ke kelasku dan langsung duduk diam di bangkuku. Aku hanya bisa diam tanpa kata apa-apa dan berharap aku bisa mengenali teman-temanku. "Rani... sorry gue enggak bisa jenguk lo. Lo gakpapa kan?, gue denger ingatan lo hilang. Astaga ran... jadi lo enggak inget gue dong" kata salah satu cewe tinggi yang duduk di sebelahku. "sorry bukan maksud aku...", "gue tau kok ran, nama gue Liviena, lo bisa panggil gue Livie". Setelah mengenalinya, aku pun kembali diam dan melamun. Pikiranku terus bertanya-tanya. Kenapa aku pernah melewati gang kecil itu?, Ehmm... mungkin hanya kebetulan, atau mungkin pikiranku masih kacau karna kecelakaan itu.
Bel tanda masuk kelas pun berbunyi. Lamunanku buyar setelah melihat cowo blasteran indo korea masuk ke kelas. Cowo itu melihatku sambil tersenyum. Hatiku berdebar kencang saat melihatnya tersenyum. Aku tak mengerti diriku sendiri kenapa bisa sampai seperti ini. Semua akan baik-baik saja, tak ada yang perlu di takutkan, batinku.
Aku duduk di bangku nomor 2, disitu aku mulai bingung lagi saat seorang cewe tiba-tiba duduk di sebelahku. "Eh... kabarmu gimana? gak kenapa-kenapa kan? Sory pas di rs aku gak bisa jenguk kamu." " Hmm iya nggapapa kok... lagi pula.." " udahlah ran.. jangan khawatir, aku tau ingatanmu hilang, namaku glaydis panggil aja glay." "oh iya glay, makasih banyak." "oke". Aku sangat senang jika ada temanku yang masih ada simpati kepadaku. Sudah lama sekali tak bergaul dengan teman-teman di sekolah. Hal yang sangat aku rindukan.
Pelajaran pertama adalah Bahasa Indonesia. Hal yang aku ingat dengan pelajaran ini adalah ceramah yang membosankan dari "Guru Killer" yang gak jelas cara bicaranya. Ternuata dugaanku benar, Pak Rusban guru bahasa Indonesiaku yang aku mulai ingat. Sepanjang pelajaran memang semua murid hanya duduk diam tanpa ada sepatah kata pun keluar dari mulut mereka jika tak di suruh. Aneh.. anak cowo yang tersenyum padaku tadi merasa biasa saja, tak measakan tegang sedikitk pun. Aku mulai heran dengan anak itu, hanya dia seorang di kelas yang berani menentang kata-kata Pak Rusban. "Siapa yang berani maju kedepan membacakan puisinya?" Kata Pak Rusban dengan galaknya. Kelas pun sunyi senyap, tak ada murid yang berani, aku sendiri pun begitu tak berani berkata-kata. Aku sudah merasa anak cowo itu yang satu-satunya berani membacakannya puisi di depan kelas dan... " Saya berani pak" kata cowo itu. Benarkan dugaanku pasti dia yang berani membacakan puisi. Seisi kelas pun berhafas lega karna cowo itu, yah.. saatnya mendengarkan puisinya.
Puisi yang sederhana tapi menyentuh hati.. ya, begitulah puisi yang dibacakannya namun ada bait dalam puisi itu yang membuatku sangat malu..
Aku dapat menggapai bintang untukmu
Aku dapat memetik bunga surga untukmu
Hitunglah pasir dilaut
Hitunglah bintang dilangit malam
Hitunglah banyaknya air dibumi ini
Itulah seberapa besar cintaku padamu
Apakah kau mau menerima cintaku? Rani?
Aku terkejut saat kata-kata itu terlotar dari mulutnya. Pipiku merah seperti tomat matang, satu kelaspun menyorakiku. Malu bukan main yang aku rasakan. "Ciee... rani di tembak vincent nih... wkwkwk" "ah engga biasa aja cuma bait puisi biasa kali glay." "shy-shy cat nih..haha, just kidding kok ran" " Udah ah nanti Pak Rusban ngamuk ke kamu gak tau lho ya?" "Iya-iya"
Vincent... Hmmm nama yang tak asing di telingaku. Ya mungkin sejak ingatanku hilang aku tak bisa mengingat sosok dari nama vincent itu. Bel pulang sekolah berbunyi, Livie dan Glay menemaniku pulang kerumah, Mataku selalu tertuju dengan gang sempit yang tak jauh dari rumahku. Aku merasa aneh dengan gang itu. Selalu ada rasa takut jika melihat gang itu. Namun aku sudah mempunyai tekat untuk tak merasakan apapun saat melewati gang itu.
"Eh ran, ngelamun aja nanti nabrak engga tau lho." Suara Glay membuyarkan lamunanku. Biasa Glay memang orangnya selalu suka membuyarkan lamunan orang tapi dia sendiri tidak suka jika lamunannya dibuyarkan. Kebiasaan buruk yang tidak disukai dirinya sendiri. "Eeeh, ngga ngelamun. Ngga bakal nabrak kok tenang aja." "Iya deh percaya, yuk cepet keburu hujan nih aku juga belum sampe rumah." "Iya, ayo cepet."
Perasaanku semakin tak enak saat menjauh dari gang sempit tu, rasanya seperti ada yang mengikuti dari belakang. Tiap kali ku menatap belakang sellau ada gerakan cepat seorang pria berbayang hitam. Dalam benakku aku ketakutan, namun aku berusaha menutupi ketakutan itu.
Setelah sampai di pintu gerbang sekolah, aku melihat sekeliling dengan ragu. Dalam hati terus bertanya-tanya apakah ada yang bisa menemaniku?. Dengan ragu aku Masuk ke kelasku dan langsung duduk diam di bangkuku. Aku hanya bisa diam tanpa kata apa-apa dan berharap aku bisa mengenali teman-temanku. "Rani... sorry gue enggak bisa jenguk lo. Lo gakpapa kan?, gue denger ingatan lo hilang. Astaga ran... jadi lo enggak inget gue dong" kata salah satu cewe tinggi yang duduk di sebelahku. "sorry bukan maksud aku...", "gue tau kok ran, nama gue Liviena, lo bisa panggil gue Livie". Setelah mengenalinya, aku pun kembali diam dan melamun. Pikiranku terus bertanya-tanya. Kenapa aku pernah melewati gang kecil itu?, Ehmm... mungkin hanya kebetulan, atau mungkin pikiranku masih kacau karna kecelakaan itu.
Bel tanda masuk kelas pun berbunyi. Lamunanku buyar setelah melihat cowo blasteran indo korea masuk ke kelas. Cowo itu melihatku sambil tersenyum. Hatiku berdebar kencang saat melihatnya tersenyum. Aku tak mengerti diriku sendiri kenapa bisa sampai seperti ini. Semua akan baik-baik saja, tak ada yang perlu di takutkan, batinku.
Aku duduk di bangku nomor 2, disitu aku mulai bingung lagi saat seorang cewe tiba-tiba duduk di sebelahku. "Eh... kabarmu gimana? gak kenapa-kenapa kan? Sory pas di rs aku gak bisa jenguk kamu." " Hmm iya nggapapa kok... lagi pula.." " udahlah ran.. jangan khawatir, aku tau ingatanmu hilang, namaku glaydis panggil aja glay." "oh iya glay, makasih banyak." "oke". Aku sangat senang jika ada temanku yang masih ada simpati kepadaku. Sudah lama sekali tak bergaul dengan teman-teman di sekolah. Hal yang sangat aku rindukan.
Pelajaran pertama adalah Bahasa Indonesia. Hal yang aku ingat dengan pelajaran ini adalah ceramah yang membosankan dari "Guru Killer" yang gak jelas cara bicaranya. Ternuata dugaanku benar, Pak Rusban guru bahasa Indonesiaku yang aku mulai ingat. Sepanjang pelajaran memang semua murid hanya duduk diam tanpa ada sepatah kata pun keluar dari mulut mereka jika tak di suruh. Aneh.. anak cowo yang tersenyum padaku tadi merasa biasa saja, tak measakan tegang sedikitk pun. Aku mulai heran dengan anak itu, hanya dia seorang di kelas yang berani menentang kata-kata Pak Rusban. "Siapa yang berani maju kedepan membacakan puisinya?" Kata Pak Rusban dengan galaknya. Kelas pun sunyi senyap, tak ada murid yang berani, aku sendiri pun begitu tak berani berkata-kata. Aku sudah merasa anak cowo itu yang satu-satunya berani membacakannya puisi di depan kelas dan... " Saya berani pak" kata cowo itu. Benarkan dugaanku pasti dia yang berani membacakan puisi. Seisi kelas pun berhafas lega karna cowo itu, yah.. saatnya mendengarkan puisinya.
Puisi yang sederhana tapi menyentuh hati.. ya, begitulah puisi yang dibacakannya namun ada bait dalam puisi itu yang membuatku sangat malu..
Aku dapat menggapai bintang untukmu
Aku dapat memetik bunga surga untukmu
Hitunglah pasir dilaut
Hitunglah bintang dilangit malam
Hitunglah banyaknya air dibumi ini
Itulah seberapa besar cintaku padamu
Apakah kau mau menerima cintaku? Rani?
Aku terkejut saat kata-kata itu terlotar dari mulutnya. Pipiku merah seperti tomat matang, satu kelaspun menyorakiku. Malu bukan main yang aku rasakan. "Ciee... rani di tembak vincent nih... wkwkwk" "ah engga biasa aja cuma bait puisi biasa kali glay." "shy-shy cat nih..haha, just kidding kok ran" " Udah ah nanti Pak Rusban ngamuk ke kamu gak tau lho ya?" "Iya-iya"
Vincent... Hmmm nama yang tak asing di telingaku. Ya mungkin sejak ingatanku hilang aku tak bisa mengingat sosok dari nama vincent itu. Bel pulang sekolah berbunyi, Livie dan Glay menemaniku pulang kerumah, Mataku selalu tertuju dengan gang sempit yang tak jauh dari rumahku. Aku merasa aneh dengan gang itu. Selalu ada rasa takut jika melihat gang itu. Namun aku sudah mempunyai tekat untuk tak merasakan apapun saat melewati gang itu.
"Eh ran, ngelamun aja nanti nabrak engga tau lho." Suara Glay membuyarkan lamunanku. Biasa Glay memang orangnya selalu suka membuyarkan lamunan orang tapi dia sendiri tidak suka jika lamunannya dibuyarkan. Kebiasaan buruk yang tidak disukai dirinya sendiri. "Eeeh, ngga ngelamun. Ngga bakal nabrak kok tenang aja." "Iya deh percaya, yuk cepet keburu hujan nih aku juga belum sampe rumah." "Iya, ayo cepet."
Perasaanku semakin tak enak saat menjauh dari gang sempit tu, rasanya seperti ada yang mengikuti dari belakang. Tiap kali ku menatap belakang sellau ada gerakan cepat seorang pria berbayang hitam. Dalam benakku aku ketakutan, namun aku berusaha menutupi ketakutan itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar