cahaya mentari pagi hari bersinar
nyanyian kicauan burung yang indah
tarian kupu-kupu nan indah
angin membelaiku perlahan...
mambawa perasaan tenang
kulihat 1 bunga sakura yang gugur dari pohonnya
kemudian banyak sakura gugur
seperti hujan sakura yang indah
aku menutup mata merasakan bunga-bunga itu
berjatuhan di tubuhku.. membelai lembut
ku memandang ke langit
begitu indah...
begitu tenang...
andai dirimu di sana dapat melihat ini semua
aku selalu menantimu...
"Oh, gawat aku terlambat dia pasti marah padaku." Pekikku panik melihat jam dinding sudah pukul 8 tepat. Dan keadaanku masih acak-acakan tak jelas, tempat tidurku berantakan, diriku sendiri belum rapih. Kacau tak beraturan, aku bergegas mandi mengganti pakaianku dan berangkat ke tempatku berkerja dengan membiarkan keadaan kamarku yang seperti kapal pecah itu. Yah seperti
inilah hidupku. Hidup yang susah di jalani orang sepertiku ini. Namaku Sakura Hiromito teman-temanku memanggilku Sakura. Aku tinggal di apartement di pinggiran kota tokyo. Aku tinggal di sana sendirian ayah dan ibuku tinggal di kyoto. Aku tinggal di tokyo karna aku berkerja di sini. Tempatku berkerja di tengah kota tokyo di toko pakaian " Sweet Summer " milik Nakato Takomono. Bagianku berkerja sebagai desinner pakaian.
Setelah sampai di " Sweet Summer " aku cepat masuk ke dalam toko sekejap itulah Nakato menungguku di tempatku mengerjakan pakaian-pakaian mahal itu.
"Terlambat 10 menit, kau tau artinya itu? Kerja lembur 2 kali lipat"
"Aku mengerti"
"Cepat kerjakan, ada banyak pesanan hari ini"
Setelah dia pergi aku melakukan hal yang sehari-hari lakukan mengerjakan pakaian-pakaian itu dengan musik dari NIGHTCORE. Untuk hari ini musik nightcore yang bejudul Broken angel seperti biasa 1 musik untuk seharian penuh itupun tak membuatku bosan mendengarkannya karna versi musiknya 10 jam. Aku mulai mengambil guntingku memotong kain lebar menjadi bagian yang lebih kecil dan lebih kecil lagi dengan lincahnya tangan dan jari-jariku bergerak. Setelah 2 jam berkerja jadilah gaun biru muda indah untuk pelanggan yang sudah memesannya seminggu lalu. Dalam sehari aku bisa membuat puluhan pakaian indah untuk pemesan yang sangat banyak. Aku beristirahat sejenak melepas lelah tanganku, aku duduk di sofa lantai 2 toko itu dengan di temani secangkir teh hangat. Kemudian ponselku berbunyi aku lihat di layar ada nama Zano dengan senang aku angkat
"Sedang apa?"
"Kerja, tak biasanya kau menelfonku, ada apa?"
"Oh, maaf mengganggumu sebenarnya aku ingin mengajakmu makan siang di cafe milikku dengan teman-temanku."
"Oke, aku akan tanya bossku jika boleh aku ke sana jika tidak aku minta maaf."
"Baiklah, aku tunggu kabar selanjutnya."
Aku baru saja menutup telfon dan suara Nakato mengagetkanku.
"Siapa yang menelfon?"
"Oh, temanku dia ingin mengajakku makan siang di cafenya."
"Kenapa aku di sangkut pautkan juga?"
"Aku ingin bertanya padamu apa boleh aku ke sana dan meninggalkan perkerjaanku untuk beberapa jam? kan aku juga ada jam lembur semua pesanan pasti selesai."
"Tidak"
"Kenapa tidak?"
"Semua perkerjaan harus kau selesaikan dahulu sebelum kau pergi."
"Baik, aku kerjakan lagi."
"Jika kau mau aku yang akan menemanimu makan siang di sini"
"Apa?"
"tidak.. lanjutkan saja perkerjaanmu."
Seperti biasanya jika dia sudah mengatakan sesuatu dari hatinya selalu saja aku tak boleh tau. Yah sebenarnya dia orang yang baik dan ramah bahkan aku mulai suka padanya. Aku juga baru menyadari dia suka musik dari Nightcore.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
"Dia terlambat lagi" kataku dalam hati saat aku duduk di meja tempat Sakura berkerja membuat pakaian-pakaian indah untuk tokoku ini. Karyanya selalu mengagumkan tak heran jika banyak yang berminat membeli pakaian buatan tangannya sendiri. Tak heran juga tiap kali dia terlambat aku takkan memarahinya habis-habisan seperti yang lainnya, Sakura memang orang yang beruntung di perlakukan bossnya dengan lembut. Aku belajar banyak dari wanita itu, musik - musik milik Nightcore yang menjadi kesukaanku sekarang dia yang memberi tahuku, belajar hidup sederhana semuanya dari dia. Aku heran kenapa akhir - akhir ini dia sering terlambat. Sebenarnya aku tak tega menyuruhnya kerja lembur 2 kali lipat tiap kali dia terlambat dengan persanan sebanyak itu pasti dia akan kelelahan dan jatuh sakit. Hatik kecil ini tak tega sama sekali tak tega melakukannya namun harus aku lakukan dangan merasa bersalah aku laukan.
"Akhirnya dia datang juga" kata hatiku senang melihatnya. Seperti biasa jika dia terlamabat pakaian yang berantakan, rambut acak - acakan, lupa memakai make up. Dia terlihat lebih cantik jika tak memakai make up. Aku juga bingung dengan diriku sendiri sejak kapan aku mulai menyukainya.
Yah, beginilah juga sudah suka melakukan hal yang berat sedikit sudah tak tega.
Dia sudah mengerjakan 1 gaun pesanan orang, waktunya dia istirahat. Aku suka melihatinya duduk di sofa dengan menyesap teh hangatnya dan musik nightcorenya. Aku lebih suka dia yang seperti ini terlihat menyenangkan. Dia gadis yang baik, aku menawarkannya berkerja di sini menggantikan pekerja lama di sini yang sudah pensiun. Semenjak dia di sini tokoku semakin laris oleh pembeli. Suara ponsel milik Sakura membuyarkan lamunanku itu. Dia berbicara dengan riangnya, melihat dia seperti itu membuatku penasaran siapa yang menelfonnya.
Makan siang yang benar saja itu yang membuatku sedikit cemburu. Aku ingin mengajaknya makan siang untuk meringankan bebannya selama berkerja tapi aku selalu gagal utnuk mengatakannya. Aku ingin menebuh kesalahanku maka dari itu aku mengajaknya untuk makan siang tapi apakah dia mau? aku juga tak tahu apa yang dia pikirkan sekarang namun yang aku pikirkan sekarang adalah aku ingin membuatnya dia senang, hanya itu.
Aku kembali ke ruang kerjaku di samping ruang kerja sakura. Rasanya hampa jika tak ada gadis itu. Aku hanya memikirkan hal yang munurutku takkan terjadi bahkan mustahil, tak kusadar aku melamun cukup lama. Lamunanku buyar saat Sakura memasuki ruang kerjaku.
" Takomono - San? kau di dalam? "
" Ada apa kemari? "
" Ibuku baru menelfon, dia bilang aku harus segera pulang adikku sakit."
" Lalu pekerjaanmu? "
" Untuk sementara waktu aku tinggalkan perkerjaanku atau aku kerjakan di rumah?"
" Berapa lama kau pergi ? "
" Sekitar 2 minggu hingga adikku benar-benar pulih."
" Aku ikut denganmu."
" Apa?"
" Aku ikut denganmu, sudah jelas?"
" Untuk apa kau ikut denganku?"
" Untuk bersantai sejenak meninggalkan perkerjaan ini yang membuatku pusing di tambah kau yang sering terlambat."
" Lalu tokonya?"
" Tutup, kapan kau berangkat?"
" Besok."
" Baiklah, besok pagi aku akan ke rumahmu, kembali berkerja."
" hmm mhh"
Aku tak percaya dengan diriku sendiri, untuk 2 pekan aku bersamanya ke tempat tinggal orang tuanya. Aku hanya tersenyum sendiri mengetahui hal ini terjadi. Jarang sekali aku meminta pergi bersama orang lain apa lagi orang yang tak teralu akrab denganku. Aku sendiri saja jarang untuk mau ikut menginap ke rumah orang lain, kali ini saja aku mau. Aku bingung dengan perasaanku sendiri, kenapa aku bisa menyukai gadis sederhana sedangkan latar belakangku yang sejak dulu selalu di kejar - kejar gadis kaya yang tak satupun ku pikat. Aneh bukan? tapi itulah realita dalam hidupku saat ini. Apa keistimewaan gadis itu hingga aku dapat menyukainya? tak ada yang bisa menjelaskan itu selain perasaanku sendiri. Yah, kita lihat saja nanti apa yang akan terjadi selanjutnya.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali aku sudah berada di depan rumah Sakura. Terlihat sepi, hanya kucing peliharaannya yang mondar mandir kesana kemari. Sakura memang orang yang sangat sederhana bahkan rumahnya pun sesederhana orang yang menjadi penghuninya sekarang. 20 menit berlalu, aku mulai cemas dengan dia sekarang. Dia tak kunjung keluar dari rumahnya yang masih terkunci rapat. Sesekali aku mengetuk pagar rumahnya, dan tak ada jawaban. Semuana masih terihat sunyi senyap. Apa yang terjadi? apakah dia baik-baik saja di dalam sana? Oh, ayolah kenapa aku sampai berpikiran seperti itu? itu rumah dia sendiri mana mungkin terjadi apa-apa dengannya?.... ya mungkin saja. Dengan terpaksa aku memanjat pagar rumahnya dan dengan perlahan tapi pasti aku mendekati pintu rumah. Sesekali ku ketuk, tak ada jawaban. Kemudian aku dorong sedikit, betapa terkejutnya aku pintu itu terbuka. Aneh sekali kenapa pintunya di biarkan tak terkunci? ah.. mungkin sudah dia buka untukku. Aku masuk sambil melihat kanan kiri, tak banyak perabotan di rumahnya hnya ada beberapa foto dan sebuah lukisan tangan di bagian kiri ruangan. Ada pintu yang setengah terbuka di ujung ruangan. Ku dekati pintu itu, dengan penasarannya apa yang ada di balik pintu itu. Ku buka sedikit dan ku intip dari pintu, tak ada siapapun hanya tas koper besar warna merah dan tempat tidur yang berantakan. Kukira dia orang yang selalu menjaga barang-barangnya seperti di toko namn di rumahnya sendiri tak seperti itu.Kemudian aku masuk ke dalam tak ada siapapun hingga ada pintu yang terbuka lebar dan ada suara gadis menangis. Aku ingin mencari tau apa yang terjadi, kudekati perlahan, ku intip sekali lagi, di sana ada Sakura yang menangis sampil memegangi ponselnya. Dengan tak mengetahui keberadaanku, dia mulai berbicara sendiri. " Bagaimana aku bisa mengatakannya? aku tak tau apa yang harus ku lakukan sekarang ini. Hidup ini sungguh tak adil, kenapa selalu ada hal buruk yang menimpaku? Bahkah Takomono-san tak mengetahuinya... dia memang lelaki keras tapi aku menyukainya tak tau kenapa... Sakit yang kuderita sekarangs semakin parah, apakah harus aku memberitahunya? atau mungkin ku sembunyikan saja darinya? aku bingung."
Betapa terkejutnya aku mendengar perkataan Sakura di dalam sana. Dia selama ini sakit, maka dari itu dia sering terlambat. Apakah penyakitnya seserius itu hingga dia tak mau memberitahuku? juga perkataan mengenai aku. Dia menyukaiku? benarkah? apa yang dia sukai dari pria yang setiap hari menyuruhnya kerja lembur? aku tak mengerti apa yang dia biacarakan. Tak lama, aku berlari keluar dan berteriak sekeras-kerasnya dari luar. Dia mendengarnya dan keluar dengan cepat. Sebenarnya aku sangat merasa bersalah padanya lagi pula aku selalu keras pada wanita yang sakit diam diam. Aku tak peduli hingga dia keluar membukakan pintu gerbang rumahnya. Baju yang dia kenakan jauh dari rancangannya di Sweet Summer. Baju putih polos dengan celana 3/4 hitam yang ia kenakan. apakah dia tak memiliki baju yang lebih dari itu?
" Maafkan aku sudah menunggu lama, sudah berapa lama kau berada di sini?"
"Tak lama... memangnya ada apa di dalam sana? sampai sampai kau lama sekali urusan membuka pintu gerbang?"
"eehh... tak ada apa apa hanya aku sedang mencari baarangku yang kan ku bawa nanti"
"Ya sudah, cepat bereskan barangmu dan kita pergi."
" Baik Takomono-san tunggu sebentar."
Terlalu terlihat jelas bekas tangisan di matanya. Aku tak mau dia terkejut ketika aku mengetahui semuanya. Maafkan aku Sakura-chan selama ini aku sudah membuatmu menderita.
5 menit kemudian...
Ah, akhirnya wanita itu keluar juga. Betapa terkejutnya aku ketika mengetahui dia hanya membawa tas ransel ukuran sedang di punggungnya. Seperti ransel ketika sekolah. Aku hanya diam saja dan menatapnya seperti biasanya.
"Ayo kita berangkat"
"Kau hanya membawa itu?"
"Iya, lalu mau bawa apa lagi? semua yang aku perlukan ada di tas ini"
"lihat di bangku belakang apa saja yang aku bawa"
"memangnya apa yang kau bawa?"
"lihat saja sendiri"
Sakura membuka pintu bangku belakang dan betapa terkejutnya dia membawa apa yang ku bawa saat aku bersamanya. Eksprasinya nyaris membuatku tertawa, di luar dia terlihat ceria padahal di lubuk hatinya yang paling dalam menyimpan rahasia menyakitkan.
"Sebanyak ini yang kau bawa?"
"Aku hanya berjaga-jaga itu masih belum seberapa"
"Kita ini hanya pergi 2 minggu bukan untuk pindah rumah"
"Aku hanya berjaga-jaga, tidak boleh?"
"Boleh saja tapi apakah harus sebayak ini?"
"Sudahlah jangan banyak protes ayo kita pergi, sudah semakin siang"
"Baiklah Takomono-san"
"Akhirnya dia datang juga" kata hatiku senang melihatnya. Seperti biasa jika dia terlamabat pakaian yang berantakan, rambut acak - acakan, lupa memakai make up. Dia terlihat lebih cantik jika tak memakai make up. Aku juga bingung dengan diriku sendiri sejak kapan aku mulai menyukainya.
Yah, beginilah juga sudah suka melakukan hal yang berat sedikit sudah tak tega.
Dia sudah mengerjakan 1 gaun pesanan orang, waktunya dia istirahat. Aku suka melihatinya duduk di sofa dengan menyesap teh hangatnya dan musik nightcorenya. Aku lebih suka dia yang seperti ini terlihat menyenangkan. Dia gadis yang baik, aku menawarkannya berkerja di sini menggantikan pekerja lama di sini yang sudah pensiun. Semenjak dia di sini tokoku semakin laris oleh pembeli. Suara ponsel milik Sakura membuyarkan lamunanku itu. Dia berbicara dengan riangnya, melihat dia seperti itu membuatku penasaran siapa yang menelfonnya.
Makan siang yang benar saja itu yang membuatku sedikit cemburu. Aku ingin mengajaknya makan siang untuk meringankan bebannya selama berkerja tapi aku selalu gagal utnuk mengatakannya. Aku ingin menebuh kesalahanku maka dari itu aku mengajaknya untuk makan siang tapi apakah dia mau? aku juga tak tahu apa yang dia pikirkan sekarang namun yang aku pikirkan sekarang adalah aku ingin membuatnya dia senang, hanya itu.
Aku kembali ke ruang kerjaku di samping ruang kerja sakura. Rasanya hampa jika tak ada gadis itu. Aku hanya memikirkan hal yang munurutku takkan terjadi bahkan mustahil, tak kusadar aku melamun cukup lama. Lamunanku buyar saat Sakura memasuki ruang kerjaku.
" Takomono - San? kau di dalam? "
" Ada apa kemari? "
" Ibuku baru menelfon, dia bilang aku harus segera pulang adikku sakit."
" Lalu pekerjaanmu? "
" Untuk sementara waktu aku tinggalkan perkerjaanku atau aku kerjakan di rumah?"
" Berapa lama kau pergi ? "
" Sekitar 2 minggu hingga adikku benar-benar pulih."
" Aku ikut denganmu."
" Apa?"
" Aku ikut denganmu, sudah jelas?"
" Untuk apa kau ikut denganku?"
" Untuk bersantai sejenak meninggalkan perkerjaan ini yang membuatku pusing di tambah kau yang sering terlambat."
" Lalu tokonya?"
" Tutup, kapan kau berangkat?"
" Besok."
" Baiklah, besok pagi aku akan ke rumahmu, kembali berkerja."
" hmm mhh"
Aku tak percaya dengan diriku sendiri, untuk 2 pekan aku bersamanya ke tempat tinggal orang tuanya. Aku hanya tersenyum sendiri mengetahui hal ini terjadi. Jarang sekali aku meminta pergi bersama orang lain apa lagi orang yang tak teralu akrab denganku. Aku sendiri saja jarang untuk mau ikut menginap ke rumah orang lain, kali ini saja aku mau. Aku bingung dengan perasaanku sendiri, kenapa aku bisa menyukai gadis sederhana sedangkan latar belakangku yang sejak dulu selalu di kejar - kejar gadis kaya yang tak satupun ku pikat. Aneh bukan? tapi itulah realita dalam hidupku saat ini. Apa keistimewaan gadis itu hingga aku dapat menyukainya? tak ada yang bisa menjelaskan itu selain perasaanku sendiri. Yah, kita lihat saja nanti apa yang akan terjadi selanjutnya.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali aku sudah berada di depan rumah Sakura. Terlihat sepi, hanya kucing peliharaannya yang mondar mandir kesana kemari. Sakura memang orang yang sangat sederhana bahkan rumahnya pun sesederhana orang yang menjadi penghuninya sekarang. 20 menit berlalu, aku mulai cemas dengan dia sekarang. Dia tak kunjung keluar dari rumahnya yang masih terkunci rapat. Sesekali aku mengetuk pagar rumahnya, dan tak ada jawaban. Semuana masih terihat sunyi senyap. Apa yang terjadi? apakah dia baik-baik saja di dalam sana? Oh, ayolah kenapa aku sampai berpikiran seperti itu? itu rumah dia sendiri mana mungkin terjadi apa-apa dengannya?.... ya mungkin saja. Dengan terpaksa aku memanjat pagar rumahnya dan dengan perlahan tapi pasti aku mendekati pintu rumah. Sesekali ku ketuk, tak ada jawaban. Kemudian aku dorong sedikit, betapa terkejutnya aku pintu itu terbuka. Aneh sekali kenapa pintunya di biarkan tak terkunci? ah.. mungkin sudah dia buka untukku. Aku masuk sambil melihat kanan kiri, tak banyak perabotan di rumahnya hnya ada beberapa foto dan sebuah lukisan tangan di bagian kiri ruangan. Ada pintu yang setengah terbuka di ujung ruangan. Ku dekati pintu itu, dengan penasarannya apa yang ada di balik pintu itu. Ku buka sedikit dan ku intip dari pintu, tak ada siapapun hanya tas koper besar warna merah dan tempat tidur yang berantakan. Kukira dia orang yang selalu menjaga barang-barangnya seperti di toko namn di rumahnya sendiri tak seperti itu.Kemudian aku masuk ke dalam tak ada siapapun hingga ada pintu yang terbuka lebar dan ada suara gadis menangis. Aku ingin mencari tau apa yang terjadi, kudekati perlahan, ku intip sekali lagi, di sana ada Sakura yang menangis sampil memegangi ponselnya. Dengan tak mengetahui keberadaanku, dia mulai berbicara sendiri. " Bagaimana aku bisa mengatakannya? aku tak tau apa yang harus ku lakukan sekarang ini. Hidup ini sungguh tak adil, kenapa selalu ada hal buruk yang menimpaku? Bahkah Takomono-san tak mengetahuinya... dia memang lelaki keras tapi aku menyukainya tak tau kenapa... Sakit yang kuderita sekarangs semakin parah, apakah harus aku memberitahunya? atau mungkin ku sembunyikan saja darinya? aku bingung."
Betapa terkejutnya aku mendengar perkataan Sakura di dalam sana. Dia selama ini sakit, maka dari itu dia sering terlambat. Apakah penyakitnya seserius itu hingga dia tak mau memberitahuku? juga perkataan mengenai aku. Dia menyukaiku? benarkah? apa yang dia sukai dari pria yang setiap hari menyuruhnya kerja lembur? aku tak mengerti apa yang dia biacarakan. Tak lama, aku berlari keluar dan berteriak sekeras-kerasnya dari luar. Dia mendengarnya dan keluar dengan cepat. Sebenarnya aku sangat merasa bersalah padanya lagi pula aku selalu keras pada wanita yang sakit diam diam. Aku tak peduli hingga dia keluar membukakan pintu gerbang rumahnya. Baju yang dia kenakan jauh dari rancangannya di Sweet Summer. Baju putih polos dengan celana 3/4 hitam yang ia kenakan. apakah dia tak memiliki baju yang lebih dari itu?
" Maafkan aku sudah menunggu lama, sudah berapa lama kau berada di sini?"
"Tak lama... memangnya ada apa di dalam sana? sampai sampai kau lama sekali urusan membuka pintu gerbang?"
"eehh... tak ada apa apa hanya aku sedang mencari baarangku yang kan ku bawa nanti"
"Ya sudah, cepat bereskan barangmu dan kita pergi."
" Baik Takomono-san tunggu sebentar."
Terlalu terlihat jelas bekas tangisan di matanya. Aku tak mau dia terkejut ketika aku mengetahui semuanya. Maafkan aku Sakura-chan selama ini aku sudah membuatmu menderita.
5 menit kemudian...
Ah, akhirnya wanita itu keluar juga. Betapa terkejutnya aku ketika mengetahui dia hanya membawa tas ransel ukuran sedang di punggungnya. Seperti ransel ketika sekolah. Aku hanya diam saja dan menatapnya seperti biasanya.
"Ayo kita berangkat"
"Kau hanya membawa itu?"
"Iya, lalu mau bawa apa lagi? semua yang aku perlukan ada di tas ini"
"lihat di bangku belakang apa saja yang aku bawa"
"memangnya apa yang kau bawa?"
"lihat saja sendiri"
Sakura membuka pintu bangku belakang dan betapa terkejutnya dia membawa apa yang ku bawa saat aku bersamanya. Eksprasinya nyaris membuatku tertawa, di luar dia terlihat ceria padahal di lubuk hatinya yang paling dalam menyimpan rahasia menyakitkan.
"Sebanyak ini yang kau bawa?"
"Aku hanya berjaga-jaga itu masih belum seberapa"
"Kita ini hanya pergi 2 minggu bukan untuk pindah rumah"
"Aku hanya berjaga-jaga, tidak boleh?"
"Boleh saja tapi apakah harus sebayak ini?"
"Sudahlah jangan banyak protes ayo kita pergi, sudah semakin siang"
"Baiklah Takomono-san"
******************************************************
Sekitar 3 jam perjalanan dari pusat kota Tokyo, akhirnya aku sampai di kota Kyoto tempat keluargaku tinggal. Hahhh.... sudah lama rasanya tak pulang ke kampung halaman sejak aku bekerja untuk Takomono-San. Sesampainya di rumah ibuku, aku langsung menemuinya dan memeluk erat-erat. Setelah ' ibu, aku menuju kamar adikku Hime Hiromito yang terbarng tak berdaya di tempat tidurnya.
"Bagaimana keadaanmu?"
" Luamayan membaik sejauh ini, kata dokter aku harus istiharat total"
" Ya sudah kalau begitu, istirahatlah."
" Kau tak membawa apa-apa untukku?"
" Kau ingin apa?"
" Sebagai kakak yang baik, harusnya membawakan barang untuk adikknya yang sedang sakit seperti ini, kau tau?"
" Aku tau itu, jadi kau ingin apa? akan aku beri."
" eeemmm... aku ingin gaun buatanmu untukku pakai di pesta ulang tahunmu nanti."
" Kau masih ingat ulang tahunku? Baiklah akan aku buatkan khusus untuk adikku yang bawel ini."
" Aku tidak bawel"
" Tapi sangat, sama saja"
" Memangnya kau tidak?"
" Tentu saja tidak, hahaha."
" Dasar kau ini, kakak yang merepotkan sekaligus menyenangkan"
" Itulah aku"
Tiba-tiba
" Sakura, siapa lelaki yang bersamamu?"
" Sakura, siapa lelaki yang bersamamu?"
" Dia bossku ibu."
" Suruh dia masuk, Sakura"
" Baik ibu."
Apakah dia akan merasa nyaman tinggal di rumah yang cukup sederhana ini? yang biasanya dia tinggal di apartement mewah dengan berbagai fasilitas yang lengkap?. Semoga dia nyaman tinggal di sini selama 2 minggu dan tidak menyusahkanku juga yang lain. Sebenarnya aku sungkan mengajak Takomono-San, yang selalu memarahiku tiap kali aku datag terlambat. Yah beginilah nasip tak bisa di prediksi apa yang datang kedepan, tapi hidup harus terus di jalani. Mau tidak mau semua harus terus berjalan ntah ada halangan atau tidak.
*************************************************************
Hal yang paling membuatku harus beradaptasi lagi adalah saat aku pergi ke rumah orang lain dan tingga di sana. Jujur, sebenarnya aku juga bingung kenapa aku harus memaksakan ikut. Ah, aku pusing dengan pikiranku ini, bagaimana bisa aku ikut? padahal pekerjaaku yang masih banyak dan tak bisa ku tunda begitu saja? Argh..!! aku bingung. kapan jalan pikiranku bisa sejalan dengan hatiku ini? Aneh jika misalnya pikiran dan hati tak bisa jalan bersama. Yah beginilah aku, menjalani hidup yang sedikit membingungkanku.
Sama seperti cerita pada novel-novel ternama lainnya, selalu ada masalah yang merumitkan. bahkan menjadi tonjolan sebuah cerita. Di mulai dari konflik kecil hingga konflik berkepanjangan semua terdapat dalam sebuah cerita. Yah, seperti di posisiku sekarang ini sungguh menyulitkan jalan pikiranku sendiri. Aku menykai orang yang seharusnya aku lindungi bukannya yang selalu aku bentak bentak ketika melakukan kesalahan kecil seperti datang terlambat tiap kali berangkat bekerja. Disisi lain dia adalah orang yang sangat rajin bahkan patuh pada setiap peraturan yang ada di toko, ramah, baik hati pula. Karna semua alasan itulah aku ingin mengikutinya kesini agar aku tau apa yang selalu dia lakuka jika dia berada di rumah. Mungkin setelah dari sini semua itu akan berubah, dan semua demi Sakura. Aku harus membuatnya nyaman dan tidak mencurigai apa yang akan aku lakukan.
Aku duduk di teras sambil memandang langit sore yang menebarkan warna merah keunguan yang indah di angkasa ketika Sakura datang dengan membawakanku secangkir teh panas. Pikiranku masih kacau namun dengan adanya Sakura di dekatku rasanya semua kekacauan daam pikiranku ini perlahan sirna dengan sendirinya. Aku harus menanyakan tentang penyakitnya langsung.
"Kau senang disini?"
"Iya, aku cukup senang berada disini. Kenapa kau bertanya hal itu?"
"Ti-tidak ada yang penting. Jadi, kenapa kau sering datang terlambat kerja?"
"Eem, aku sering bangun kesiangan maka dari itu aku sering datang terlambat."
"Hanya itu? Lalu apa yang membuatmu terjaga hingga kau bangun kesiangan?"
"Tidak ada. Aku hanya memikirkan sesuatu."
"Jika aku boleh tau apa itu?"
"Ah, itu hal yang tidak sepatutnya kau tahu."
"Penyakitmu?"
%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
Aku serasa beku seketika mendengar bahwa Takomono-San mengetahui tentang penyakit yang aku derita ini. Oh tidak apa yang harus aku katakan padanya sekarang. Aku seperti terjebak pada ribuan pintu dan mencoba mencari jalan keluar. Aku tak bisa berbohong padanya. Ah baiklah aku menyerah akan aku katakan semuanya,
"Sudah sejak lama aku di fonis dokter mengidap Leukimia, dan selama ini aku bertahan karena obat. Setiap malam aku menahan rasa sakit yang meusuk nusuk tubuhku. Karena itu aku aku sering datang terlambat, maafkan aku aku tidak memberi tahumu lebih awal. Aku hanya tidak ingin menambah bebanmu daam pekerjaan. Aku terus bekerja agar aku dapat mengobati penyakitku sendiri tampa menyusahkan orang tuaku. Aku tidak ingin menghancurkan kebahagiaan mereka. Aku selalu berbohong kepada mereka bahwa penyakitku tdak semakin parah. Namun kenyataannya sudah nyaris seluruh tubuhku terkena. Aku tak tahu harus bagaimana lagi." aku mengakatannya dengan setengah panik.
" Suruh dia masuk, Sakura"
" Baik ibu."
Apakah dia akan merasa nyaman tinggal di rumah yang cukup sederhana ini? yang biasanya dia tinggal di apartement mewah dengan berbagai fasilitas yang lengkap?. Semoga dia nyaman tinggal di sini selama 2 minggu dan tidak menyusahkanku juga yang lain. Sebenarnya aku sungkan mengajak Takomono-San, yang selalu memarahiku tiap kali aku datag terlambat. Yah beginilah nasip tak bisa di prediksi apa yang datang kedepan, tapi hidup harus terus di jalani. Mau tidak mau semua harus terus berjalan ntah ada halangan atau tidak.
*************************************************************
Hal yang paling membuatku harus beradaptasi lagi adalah saat aku pergi ke rumah orang lain dan tingga di sana. Jujur, sebenarnya aku juga bingung kenapa aku harus memaksakan ikut. Ah, aku pusing dengan pikiranku ini, bagaimana bisa aku ikut? padahal pekerjaaku yang masih banyak dan tak bisa ku tunda begitu saja? Argh..!! aku bingung. kapan jalan pikiranku bisa sejalan dengan hatiku ini? Aneh jika misalnya pikiran dan hati tak bisa jalan bersama. Yah beginilah aku, menjalani hidup yang sedikit membingungkanku.
Sama seperti cerita pada novel-novel ternama lainnya, selalu ada masalah yang merumitkan. bahkan menjadi tonjolan sebuah cerita. Di mulai dari konflik kecil hingga konflik berkepanjangan semua terdapat dalam sebuah cerita. Yah, seperti di posisiku sekarang ini sungguh menyulitkan jalan pikiranku sendiri. Aku menykai orang yang seharusnya aku lindungi bukannya yang selalu aku bentak bentak ketika melakukan kesalahan kecil seperti datang terlambat tiap kali berangkat bekerja. Disisi lain dia adalah orang yang sangat rajin bahkan patuh pada setiap peraturan yang ada di toko, ramah, baik hati pula. Karna semua alasan itulah aku ingin mengikutinya kesini agar aku tau apa yang selalu dia lakuka jika dia berada di rumah. Mungkin setelah dari sini semua itu akan berubah, dan semua demi Sakura. Aku harus membuatnya nyaman dan tidak mencurigai apa yang akan aku lakukan.
Aku duduk di teras sambil memandang langit sore yang menebarkan warna merah keunguan yang indah di angkasa ketika Sakura datang dengan membawakanku secangkir teh panas. Pikiranku masih kacau namun dengan adanya Sakura di dekatku rasanya semua kekacauan daam pikiranku ini perlahan sirna dengan sendirinya. Aku harus menanyakan tentang penyakitnya langsung.
"Kau senang disini?"
"Iya, aku cukup senang berada disini. Kenapa kau bertanya hal itu?"
"Ti-tidak ada yang penting. Jadi, kenapa kau sering datang terlambat kerja?"
"Eem, aku sering bangun kesiangan maka dari itu aku sering datang terlambat."
"Hanya itu? Lalu apa yang membuatmu terjaga hingga kau bangun kesiangan?"
"Tidak ada. Aku hanya memikirkan sesuatu."
"Jika aku boleh tau apa itu?"
"Ah, itu hal yang tidak sepatutnya kau tahu."
"Penyakitmu?"
%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
Aku serasa beku seketika mendengar bahwa Takomono-San mengetahui tentang penyakit yang aku derita ini. Oh tidak apa yang harus aku katakan padanya sekarang. Aku seperti terjebak pada ribuan pintu dan mencoba mencari jalan keluar. Aku tak bisa berbohong padanya. Ah baiklah aku menyerah akan aku katakan semuanya,
"Sudah sejak lama aku di fonis dokter mengidap Leukimia, dan selama ini aku bertahan karena obat. Setiap malam aku menahan rasa sakit yang meusuk nusuk tubuhku. Karena itu aku aku sering datang terlambat, maafkan aku aku tidak memberi tahumu lebih awal. Aku hanya tidak ingin menambah bebanmu daam pekerjaan. Aku terus bekerja agar aku dapat mengobati penyakitku sendiri tampa menyusahkan orang tuaku. Aku tidak ingin menghancurkan kebahagiaan mereka. Aku selalu berbohong kepada mereka bahwa penyakitku tdak semakin parah. Namun kenyataannya sudah nyaris seluruh tubuhku terkena. Aku tak tahu harus bagaimana lagi." aku mengakatannya dengan setengah panik.

Sorry belum bisa baca sampai habis -Kiku
BalasHapusSimpan buat lain kali -Kiku
BalasHapusasssssss
BalasHapusnda niat bacanya kau ... - Ryoka
BalasHapusBagus juga tpi kok endingnya smpe situ tok
BalasHapusEx xj03